Minggu, 08 Mei 2011

Pencahayan Khusus

Pencahayaan tugas khusus menunjukkan dibutuhkannya pencahayaan yang baik hanya pada areal yang kecil dimana aktifitas tersebut dilaksanakan, sementara penerangan umum pada lantai bengkel atau kantor dijaga pada tingkat yang lebih rendah; misal lampu yang tergantung pada mesin atau lampu meja.

Penghematan energi terjadi disebabkan pencahayaan tugas khusus dapat dicapai dengan lampu yang memiliki watt rendah. Konsep pencahayaan untuk tugas ini jika diterapkan dengan bijaksana, dapat mengurangi jumlah peralatan pencahayaan umum, mengurangi watt lampu, menghemat energi dan memberikan penerangan yang lebih baik serta memberikan suasana sekitar yang berestetika menyenangkan.

Di beberapa pabrik tekstil, merendahkan pencahayaan dari cahaya neon menghasilkan penerangan yang makin baik dan juga menghapuskan hampir sekitar 40% lampu. Manfaat ganda dengan pemakaian energi yang makin rendah akan mengakibatkan biaya penggantian yang makin rendah pula.

Pada beberapa industri rekayasa, pencahayaan tugas khusus pada mesin diberikan oleh CFLs. Bahkan di kantor-kantor, pencahayaan meja yang sudah dilokalisir dengan CFLs lebih disukai dari pada memberikan sejumlah besar lampu neon dengan pencahayaan umum yang seragam.

Bentuk, Ruang, Warna, Cahaya, Panjang Gelombang dan Bayangan

Ruang, dalam pengamatan fisik tidak teraba melainkan terasa. Keberadaan atau kehadiran ruang dapat dirasakan dengan meng-indera bentuk-bentuk elemen pembatasnya yang salah satunya melalui indera penglihatan, pengamatan visual. Ching (1979) menyatakan bahwa bentuk adalah ciri utama yang menunjukkan suatu ruang, ruang dibatasi dan dibentuk oleh dinding, lantai dan langit-langit atau atap. Kehadiran ruang secara visual menjadi makin terasa apabila elemen-elemen pembatasnya makin jelas terwujud. Untuk mengamati batas-batas visual ini diperlukan hadirnya cahaya.

Panjang gelombang yang berbeda-beda diinterpretasikan oleh otak manusia sebagai warna, dengan merah adalah panjang gelombang terpanjang (frekuensi paling rendah) hingga ke ungu dengan panjang gelombang terpendek (frekuensi paling tinggi). Cahaya dengan frekuensi di bawah 400 nm dan di atas 700 nm tidak dapat dilihat manusia. Cahaya disebut sebagai sinar ultraviolet pada batas frekuensi tinggi dan inframerah (IR atau infrared) pada batas frekuensi rendah.

Kualitas warna suatu lampu mempunyai dua karakteristik yang berbeda sifatnya, yaitu : a). Tampak warna yang dinyatakan dalam temperatur warna.

b). Renderasi warna yang dapat mempengaruhi penampilan obyek yang diberikan cahaya suatu lampu.

Santen dan .Hansen (1985) menyatakan bahwa bentuk dan warna tidak dapat dipisahkan serta sangat terikat dengan cahaya, bekerja dengan bentuk berarti pula bekerja dengan cahaya, Warna elemen pembatas ruang dan warna cahaya berperan penting.

Setiap permukaan bentuk memiliki warna, tekstur dan kadang juga patra. warna pada permukaan suatu bentuk terdiri atas pigmen-pigmen warna yang berbeda sifatnya dengan warna cahaya. Pigmen warna biru bila dicampur dengan pigmen warna kuning akan menghasilkan campuran pigmen berwarna hijau, pigmen warna merah dicampur pigmen hijau dan ungu akan mejadikan campuran pigmen warna hitam.

Sementara itu, sumber cahaya merah yang digabungkan dengan sumber cahaya hijau bila diproyeksikan di atas bidang putih akan memunculkan cahaya gabungan berwarna kuning. Tiga macam warna cahaya biru, hijau dan merah bila digabungkan akan menimbulkan warna cahaya putih pada bidang proyeksi berwarna putih. Dan bila bidang proyeksinya tidak putih maka akan menimbulkan kesan warna yang lain pula.

Gambaran ini baru memberikan contoh beberapa warna pigmen dan warna cahaya saja, sedangkan dalam dunia praktisi kombinasi warna dan cahaya ini demikian tak terhingga banyaknya sehingga untuk menambah perbendaharaan pengetahuan tentang kombinasi dengan dampak visualnya perlu dilakukan dengan percobaan-percobaan baik di lapangan ataupun di laboratorium cahaya dan warna.

Suhu Warna

Suhu warna, dinyatakan dalam skala Kelvin (K), adalah penampakan warna dari lampu itu sendiri dan cahaya yang dihasilkannya. Bayangkan sebuah balok baja yang dipanaskan secara terus menerus hingga berpijar, pertama-tama berwarna oranye kemudian kuning dan seterusnya hingga menjadi “putih panas”.

Sewaktu-waktu selama pemanasan, kita dapat mengukur suhu logam dalam Kelvin (Celsius + 273) dan memberikan angka tersebut kepada warna yang dihasilkan. Hal ini merupakan dasar teori untuk suhu warna.

Untuk lampu pijar, suhu warna merupakan nilai yang “sesungguhnya”; untuk lampu neon dan lampu dengan pelepasan intensitas tinggi (HID), nilainya berupa perkiraan dan disebut korelasi suhu warna.

Di Industri, “suhu warna” dan “korelasi suhu warna” kadang-kadang digunakan secara bergantian. Suhu warna lampu membuat sumber cahaya akan nampak “hangat”, “netral” atau “sejuk”.

Umumnya, makin rendah suhu, makin hangat sumber, dan sebaliknya. Perubahan Warna Kemampuan sumber cahaya merubah warna permukaan secara akurat dapat diukur dengan baik oleh indeks perubahan warna. Indeks ini didasarkan pada ketepatan dimana serangkaian uji warna dipancarkan kembali oleh lampu yang menjadi perhatian relatif terhadap lampu uji, persesuaian yang sempurna akan diberi angka 100.

Teknik Pencahayaan

Teknik pencahayaan dapat dikelompokkan menjadi :

a). Sistem pencahayaan merata.

Sistem ini memberikan tingkat pencahayaan yang merata di seluruh ruangan, digunakan jika tugas visual yang dilakukan di seluruh tempat dalam ruangan memerlukan tingkat pencahayaan yang sama. Tingkat pencahayaan yang merata diperoleh dengan memasang armatur secara merata langsung maupun tidak langsung di seluruh langit-langit.

b). Sistem pencahayaan setempat.

Sistem ini memberikan tingkat pencahayaan pada bidang kerja yang tidak merata. Di tempat yang diperlukan untuk melakukan tugas visual yang memerlukan tingkat pencahayaan yang tinggi, diberikan cahaya yang lebih banyak dibandingkan dengan sekitarnya. Hal ini diperoleh dengan mengkonsentrasikan penempatan armatur pada langit-langit di atas tempat tersebut.

c). Sistem pencahayaan gabungan merata dan setempat.

Sistem pencahayaan gabungan didapatkan dengan menambah sistem pencahayaan setempat pada sistem pencahayaan merata, dengan armatur yang dipasang di dekat tugas visual.

Sistem pencahayaan gabungan dianjurkan digunakan untuk :

Ø Tugas visual yang memerlukan tingkat pencahayaan yang tinggi.

Ø Memperlihatkan bentuk dan tekstur yang memerlukan cahaya datang dari arah tertentu.

Ø Pencahayaan merata terhalang, sehingga tidak dapat sampai pada tempat yang terhalang tersebut.

Ø Tingkat pencahayaan yang lebih tinggi diperlukan untuk orang tua atau yang kemampuan penglihatannya sudah berkurang.

Cahaya Buatan

Cahaya buatan adalah cahaya yang berasal dari hasil karya manusia berupa lampu yang dapat menyinari ruangan sebagai pengganti jika sinar matahari tidak ada. Cahaya buatan yang tidak baik tentunya akan mengganggu aktivitas keseharian kita, misalnya ditempat kita bekerja. Bahkan, dengan cahaya buatan yang baik dan disaring dari “kesilauan” akan bisa mempertinggi aktivitas kita dalam bekerja jika dibandingkan jika beraktivitas pada cahaya siang alamiah.

Perkembangan cahaya buatan dimulai dari cahaya obor dari kayu cemara, lampu minyak tanah, lilin, lampu gas sampai pada lampu listrik. Setelah listrik diketemukan, mungkin lampu-lampu jenis lain ada yang sudah tidak dipergunakan lagi.

Efek pencahayaan ini bisa terjadi melalui tiga cara, yaitu:

1. direct (langsung), dimana cahaya yang diterima langsung dari sumbernya, misalnya lampu meja untuk membaca;

2. indirect (tak langsung), dimana bila cahaya yang diterima merupakan hasil pantulan dinding dan loteng, seperti halnya di ruang tamu;

3. semi direct (genural diffusing), apabila cahaya itu datang dan dipancarkan kesegala jurusan, seperti halnya di kantor-kantor.

Dalam menggunakan cahaya buatan, haruslah memenuhi beberapa syarat agar tidak menimbulkan gangguan pada kesehatan mata, yaitu;

1. Pencahayaan buatan tidak boleh menimbulkan pertambahan udara (di tempat kerja, misalnya) yang berlebihan. Jika hal ini terjadi, diusahakan supaya suhu tersebut turun, misalnya dengan mengusahakan pengaturan ventilasi, AC, dan fan;

2. Sumber haruslah bisa memberikan pencahayaan dengan intensitas yang tetap, menyebar, merata, tidak berkedip-kedip, tidak menyilaukan, dan tidak menimbulkan bayangan yang mengganggu.

3. Pencahayaan haruslah cukup intensitasnya, sesuai dengan beban aktivitas (bekerja) yang dilakukan oleh seseorang yang sedang melakukan suatu pekerjaan.

Perancangan tata cahaya dengan sumber cahaya meliputi pengolahan bentuk dan posisi lubang cahaya, bentuk dan posisi bidang pemantul, pengisian pola-pola pada lubang cahaya dengan material tertentu seperti batang-batang atau bidang-bidang dari batu, kayu,timah, besi, tembaga, aluminium, kaca buram, bening, berwarna, fibreglass dan kain.

1. Komposisi Cahaya, yang tepat dari pemakaian General Lighting (Cahaya Mutlak) , Task Lighting (Pencahayaan Setempat) danDecorative Lighting (Estetika keindahan) , membutuhkan sensitifitas, dan kreativitas yang tinggi.

2. Warna Cahaya, pilihan yang akurat dimana disesuikan dengan tata letak yang akan mendukung tata warna pencahayaan dan tampilan objeknya.

3. Intensitas Cahaya, ditentukan oleh kebutuhan ruang dan kebutuhan penyinaran yang disesuaikan terhadap fungsi ruang, karena setiap ruang memerlukan intensitas cahaya yang berbeda.

Tidak ada komentar: